EPI ZARNI, S.Pd. 2018. Penerapan Pendekatan Inkuiri Dalam Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Pada Konsep Larutan Asam Basa Pada Siswa Kelas XI MIA Semester II MAN 2 Bungo
Kata kunci: Pendekatan, inkuiri, asam dan basa
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskam proses Penerapan Pendekatan Inkuiri Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Pada Konsep Larutan Asam Basa Pada Siswa Kelas XI MIA Semester II MAN 2 Bungo.
Permasalah dari Penelitian Tindakan Kelas ini yaitu hasil belajar kimia yang rendah pada konsep larutan asam basa, metode pembelajaran yang digunakan terbatas pada ceramah dan tanya jawab, dan keterbatasan alat dan bahan eksperimen, maka diberikanlah solusi dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan pada konsep tersebut dengan diterapkannya pendekatan inkuiri. Penelitian ini dilakukan di kelas XI MIA dengan 13 siswa dan 17 siswi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perubahan yang signifikan, yaitu hasil pembelajaran pada siklus I rata-rata nilai siswa sebesar 71,6 dengan persentase ketercapaian KKM sebesar 46,6%, pada siklus II rata-rata nilai siswa sebesar 73,7 dengan persentase ketercapaian KKM sebesar 80%. Tindakan ini diberikan pada siklus II karena tercapainya nilai diatas KKM dengan persentase 75% sebagai indikator keberhasilan.
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa Penerapan Pendekatan Inkuiri dapat Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Pada Konsep Larutan Asam Basa, walaupun masih ada siswa yang masih mendapat nilai dibawah KKM.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, yang telah mencurahkan rahmat dan karuniaNya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Penelitian tindakan kelas yang berjudul” Penerapan Pendekatan Inkuiri Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Larutan Asam Basa Pada Siswa Kelas XI MIA Semester II MAN 2 Bungo” Selesainya penelitian ini berkat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada:
Dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan Penelitian tindakan kelas yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis. Semoga Allah membalas kebaikan yang telah diberikan. Akhir kata, semoga Penelitian tindakan kelas ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pengembangan pengetahuan di dunia pendidikan sains pada umumnya.
Muara Bungo, Maret 2018
Penulis
EPI ZARNI, S.Pd
NIP. 197711102005012007
Halaman
|
LEMBAR PENGESAHAN …………………………......................................... ABSTRAK ........................................................................................................... KATA PENGANTAR ......................................................................................... DAFTAR ISI ........................................................................................................ DAFTAR TABEL ................................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN ……………...…………………………………........… BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………….......... A. Latar Belakang ............... ……………………….……..................... B. Rumusan Masalah ..............………………………………….......... C. Tujuan Penelitian .............................................................................. D. Manfaat Penelitian …………………..............................…............ BAB II KAJIAN TEORI ...................………………………………….....…… A. Pendekatan Pembelajaran …......……………………..….....……… B. Larutan Asam Basa ….........………………………….....………… C. Hasil Penelitian yang Relevan ……………........…….....………… D. Hipotesis Tindakan ……..……………………….....……………… BAB III METODOLOGI PENELITIAN ……………………….….........…...... A. Subjek Penelitian ………………………………………........…… B. Waktu dan Tempat Penelitian ……………………........…………... C. Prosedur Penelitian ........................................................................... D. Teknik Analisis Data …………..........…………………......……… BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................... A. Hasil Penelitian Siklus I………….......…….....………................… B. Hasil Penelitian Siklus II ………................…................………….. C. Pembahasan………………………………………………………... BAB V KESIMPULAN …………………………………………………...…… A. Kesimpulan ………………………………………….....……....…..... B. Saran ...………………………………………………........……........ DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………...……... LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………...…………... |
i ii iii iv v vi 1 1 3 3 4 5 5 13 19 19 20 20 20 20 23 30 30 41 51 54 54 54 55 57
|
.
Lampiran 1 Data Nilai siswa kelas XI Mia Siklus I dan Siklus II. ................... 57
Lampiran 2 Lembar Kerja Siswa .................................................................. 59
Lampiran 3 Kisi-Kisi dan Indikator Soal ........................………………........……... 64
Lampiran 4 Foto-Foto Kegiatan Pembelajaran (Praktikum Asam Basa)………. 69
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar dalam pendidikan dipandang sebagai usaha sadar dan disengaja yang dirancang dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses pembelajaran pada hakekatnya diupayakan agar peserta didik dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitasnya melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Hakikat lain dari pembelajaran adalah perencanaan atau perancangan yang disiapkan guru dalam upaya membelajarkan siswa.
Oleh karena itu dalam pembelajaran, diharapkan desain atau rancangan yang disiapkan tidak hanya membuat siswa berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi juga dengan keseluruhan sumber belajar yang memungkinkan untuk digunakan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pembelajaran yang baik memungkinkan siswa dapat berinteraksi dengan guru dan juga lingkungan, sehingga dalam proses pembelajarannya tidak hanya sekedar menghafal sejumlah fakta atau informasi, akan tetapi pristiwa mental dan proses berpengalaman.
Sesuai dengan peraturan pemerintah No. 32 Tahun 2013 pasal 19 dikatakan bahwa “proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpatisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.” Hal ini memperjelas bahwa skenario pembelajaran yang didesain oleh guru harus berorientasi pada kegiatan siswa.
Upaya menciptakan sistem pembelajaran yang baik salah satunya dengan menggunakan suatu pendekatan pembelajaran. Penggunaan pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran juga harus diperhatikan agar tujuan pembelajarannya terarah dan dapat membantu siswa menggunakan daya intelektualnya.
Keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari kualitas anak didik, salah satu tolak ukurnya adalah proses belajar siswa. Usaha peningkatan kualitas pembelajaran ini sebenarnya dapat diketahui melalui informasi mengenai keberhasilan guru dan siswa dalam berinteraksi mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, adapun proses pembelajaran merupakan kegiatan yang utama, sehingga keberhasilan siswa tergantung dari proses belajar itu sendiri.
Berdasarkan data hasil belajar siswa pada konsep larutan asam dan basa yang diperoleh dari guru bidang studi kimia, pada kelas XI MIA tahun ajaran 2017/2018 sebagian siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 71. Nilai rata-rata siswa sebesar 62,6 dengan persentase nilai di atas KKM yaitu 35% dan persentase nilai di bawah KKM yaitu 65%. Apabila 75% dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar atau mencapai taraf keberhasilan minimal, optimal bahkan maksimal, maka proses belajar mengajar berikutnya dapat membahas pokok bahasan baru dan hendaknya bersifat perbaikan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa proses belajar mengajar berikutnya seharusnya belum dapat melanjutkan pokok bahasan baru dan guru hendaknya melakukan perbaikan. Berdasarkan kenyataan di atas, perlu dilakukan tindakan Penerapan Pendekatan Inkuiri dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Larutan Asam Basa pada siswa kelas XI MIA semester II MAN 2 Bungo
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat di rumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan penerapan pendekatan inkuiri pada konsep larutan asam basa siswa kelas XI Mia MAN 2 Bungo
D. Manfaat Penelitian
Manfaat Penelitian ini diantaranya:
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pendekatan (approach) merupakan suatu titik tolak atau sudut pandangan terhadap proses pembelajaran. Pendekatan bersifat filosofis paradigmatik, yaitu dasar dari aplikasi strategi dan metode. Pendekatan merupakan dasar untuk menentukan strategi pembelajaran yang diwujudkan melalui suatu metode, dan metode merupakan alat yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi pembelajaran. Dengan kata lain pendekatan dapat diimplementasikan dalam sejumlah strategi, dan suatu strategi dapat diimplementasikan dalam beberapa metode.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai jalan yang akan dilalui oleh guru dan siswa dalam upaya mencapai tujuan intruksional pada suatu satuan intruksional tertentu. Pendekatan pembelajaran dilakukan oleh guru untuk menjelaskan materi pelajaran yang diorientasikan pada pengalaman-pengalaman yang dimiliki siswa untuk mempelajari suatu konsep, prinsip atau teori yang baru tentang suatu bidang ilmu. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang digunakan oleh guru untuk membantu siswa dalam memahami suatu konsep, prinsip atau teori baru yang diorientasikan melalui pengalaman-pengalaman yang dimiliki siswa itu sendiri dalam proses pembelajarannya. Pendekatan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
Berdasarkan pemerolehan bahan pembelajaran, secara garis besar pendekatan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
perolehan dan pemahaman fakta dan prinsip.
Pendekatan pembelajaran dinilai baik apabila dapat mencapai suatu tujuan intruksional dalam suatu satuan instruksional dengan memperhatikan hal-hal berikut, yaitu:
Inkuiri berasal dari kata inquire yang berarti menanyakan, meminta keterangan, atau penyelidikan. “Inkuiri merupakan perluasan dari proses discovery yang digunakan lebih mendalam”. Inkuiri merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan seluruh kemampuan siswa secara maksimal dalam mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analiitis, sehingga siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Sehingga melalui pembelajaran ini, siswa dapat mengembangkan intelektualnya dan lebih percaya diri dalam mengungkapkan penemuannya.
Pembelajaran inkuiri dikembangkan oleh seorang tokoh yang bernama Suchman. Suchman meyakini bahwa “anak-anak merupakan individu yang penuh rasa ingin tahu akan segala sesuatu”. Postulat yang diajukan Suchman untuk mendukung teori yang mendasari pembelajaran ini, yaitu sebagai berikut:
tahu akan segala sesuatu yang menarik perhatiannya.
akan belajar untuk menganalisis strategi berpikirnya.
digabungkan dengan strategi lama yang telah dimiliki siswa.
bersifat tentative dan belajar menghargai penjelasan atau solusi alternatif.
Pendekatan inkuiri merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan dasar kemampuan untuk memecahkan masalah. Pendekatan inkuiri bertujuan untuk membuat siswa menjalani suatu proses bagaimana pengetahuan diciptakan Dengan kata lain prinsip utama inkuiri, yaitu siswa dapat mengkonstruk sendiri pemahamannya untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Dalam proses belajar mengajar, inkuiri merupakan suatu proses penyelidikan (investigasi) yang memungkinkan ide siswa berperan dalam melakukan proses penyelidikan tersebut.
Siswa diprogramkan agar selalu aktif secara mental maupun fisik untuk berusaha memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka menemukan sendiri konsep-konsep yang direncanakan oleh guru. Jadi dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang berlangsung tidak hanya bersifat teoritik, tetapi juga praktik. Dengan kata lain pendekatan pembelajaran ini menekankan pada bagaimana cara siswa dalam menerapkan atau mengaplikasikan konsepkonsep maupun teori yang telah diperolehnya, sehingga pembelajaran tersebut akan memberikan pengalaman langsung dan lebih bermakna untuk siswa.
Pengertian scientific inquiry (inkuiri ilmiah) lebih tepat dikaitkan dengan tahapan-tahapan tindakan para saintis yang mengarahkan mereka pada pengetahuan ilmiah. Tindakan para saintis tersebut dikenal dengan kegiatan atau metode ilmiah, yaitu melakukan pengamatan, merumuskan masalah, melakukan hipotesis, bereksperimen, mengumpulkan data berdasarkan instrumen yang dibuatnya dan membuat kesimpulan. Hal ini dapat menimbulkan sikap objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya.
Pengajaran dengan pendekatan inkuiri memberikan kesempatan pada siswa untuk mengenal dan mengembangkan diri mereka sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa inkuiri merupakan suatu model pembelajaran yang melibatkan kemampuan sains dalam menemukan penemuannya, dan melalui kemampuan sains tersebut dapat mengembangkan sikap positif siswa. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru dalam menggunakan pembelajaran inkuiri, yaitu:
Peranan utama guru dalam menciptakan kondisi pembelajaran ini adalah sebagai berikut, yaitu:
1. Motivator, yang memberikan rangsangan agar peserta didik aktif dan
bergairah berpikir.
2. Fasilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika peserta didik mengalami
kesulitan.
3. Penanya, untuk menyadarkan peserta didik dari kekeliruan yang mereka
perbuatan
4. Administrator, yang bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan di
dalam kelas.
Pengarah, yang memimpin kegiatan peserta didik untuk mencapai
tujuan yang diharapkan.
peserta didik.
Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
inkuiri sebagai berikut, yaitu:
Dalam National Science Education Standards, pendekatan pembelajaran inkuiri terdiri dari lima tahapan, yaitu:
1) Engage by oriented question (pemberian pertanyaan arahan)
Siswa diberi pengetahuan melalui pertanyaan mengenai objek, organisme atau fenomena sains. Kemudian dihubungkan dengan konsep sains. Pertanyaan mengarahkan siswa untuk melakukan investigasi empiris dan menggunakan data untuk memberi penjelasan mengenai suatu fenomena sains. Guru membimbing siswa berpikir kritis dalam proses identifikasi pertanyaan yang muncul dari siswa agar sesuai dan dapat dijawab siswa melalui observasi dan investigasi.
Siswa melakukan pembuktian melalui eksperimen yang dapat membantu mereka untuk mengembangkan penjelasan dan evaluasi dari pertanyaan sains yang mereka ajukan sebelumnya. Akurasi data didapat melalui observasi, pengukuran dan mengumpulkan data yang berkaitan dengan eksperimen yang dilakukan.
Siswa membuat penjelasan dari bukti yang diperoleh secara ilmiah. Siswa menggunakan alasan, penyebab, efek dan membangun hubungan berdasarkan bukti dengan cara logis. Bagi siswa, tahap ini berguna untuk membangun pengetahuan yang baru berdasarkan pengetahuan sebelumnya.
Siswa mengevaluasi pertanyaan mereka dengan cara eliminasi dan revisi dalam memperjelas alternatif penjelasan. Alternatif penjelasan didapat dari hasil diskusi, membandingkan hasil, intruksi dari buku atau materi dari guru. Evaluasi bertujuan agar siswa dapat memperoleh hubungan antara hasil dan juga kemampuan ilmiah yang dibutuhkan untuk level selanjutnya.
Siswa mengkomunikasikan hasil yang diperoleh. Dengan cara ini siswa yang lain mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan bukti, mengevaluasi alasan yang tidak sesuai dan mengusulkan alternatif penjelasan.
Lima langkah pada inkuiri ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Para siswa akan berperan aktif melatih keberanian, berkomunikasi dan berusaha mendapatkan pengetahuannya sendiri untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Sehingga dalam kegiatan pembelajarannya tidak lagi didominasi oleh kegiatan guru melainkan siswa itu sendiri. Tugas guru adalah mempersiapkan skenario pembelajaran dan membimbing siswa dalam melakukan setiap tahapan dalam kegiatan pembelajaran tersebut sehingga pembelajarannya dapat berjalan dengan lancar. Jadi dalam hal ini guru merupakan fasilitator bagi para siswa untuk mendapatkan pengetahuan mereka sendiri dan dapat memecahkan masalah.
Inkuiri merupakan pembelajaran yang banyak dianjurkan karena pebelajaran ini memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:
kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara
seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih
bermakna.
belajar mereka.
psikologi
tingkah laku berkat adanya pengalaman.
Di samping memiliki keunggulan, inkuiri juga memiliki kelemahan sebagai berikut, yaitu:
karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
Larutan asam adalah larutan yang mempunyai rasa asam dan bersifat korosif yaitu larutan yang dapat merusak logam marmer, dan berbagai bahan lain, sedangkan basa adalah larutan yang memiliki rasa pahit dan bersifat kaustik yaitu licin, seperti bersabun. Ada beberapa ilmuan yang menjelaskan tentang teori asam dan basa, yaitu sebagai berikut:
adalah oksigen, karena asam selalu mengandung unsur oksigen
Derajat atau tingkat keasaman larutan (pH) bergantung pada konsentrasi ion H+ dalam larutan. Konsep pH dinyatakan dalam konsentrasi ion H+, yaitu sama dengan negatif logaritma konsentrasi ion H+:
|
pH = -Log [H+] |
Analogi dengan pH (sebagai cara menentukan konsentrasi ion H+), konsentrasi ion OH- juga dapat dinyatakan dengan cara yang sama, yaitu pOH. pOH dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan:
pOH = -Log [OH-]
Tetapan kesetimbangan air yang disimbolkan dengan Kw,
Ketetapan ini menunjukkan bahwa dalam air murni atau larutan apa saja, hasil kali konsentrasi ion hidrogen dan ion hidroksida adalah tetap (konstan). Pada suhu kamar, memiliki tetapan 1 x 10-14
Hubungan antara pH dengan pOH dapat diturunkan dari persamaan tetapan kesetimbangan air . Jika kedua ruas persamaan ini diambil harga negatif logaritmanya, diperoleh:
|
pH + pOH = 14 |
Derajat keasaman atau kebasaan dinyatakan secara lengkap dan ringkas oleh harga pH-nya, yaitu: Jika pH = 7, maka larutan bersifat netral, Jika pH < 7, maka larutan bersifat asam, Jika pH > 7, maka larutan bersifat basa
“Kekuatan asam dan basa dinyatakan dalam besaran derajat ionisasi dan tetapan kesetimbangan ionisasinya”.
Derajat ionisasi (α) merupakan perbandingan antara jumlah zat yang mengion dengan jumlah zat mula-mula. Dapat dinyatakan sebagai berikut, yaitu:
|
α = Jumlah zat yang mengion Jumlah zat mula-mula |
Jika zat mengion sempurna, maka derajat ionisasinya = 1 Jika zat tidak ada yang mengion, maka derajat ionisasinya = 0
Jadi, batas-batas derajat ionisasinya adalah 0 < α < 1.
Tetapan kesetimbangan untuk ionisasi asam disebut tetapan ionisasi asam
( ).Secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut, Reaksi:
HA (aq) H+(aq) + (aq)
Rumus mencari nilai :
Ka = [H+]. [A-]
[HA]
Hubungan antara kekuatan asam (α) dengan tetapan kesetimbangan asam ( ) Tetapan kesetibangan untuk ionisasi basa disebut tetapan ionisasi basa ( ), rumus mencari nilai analogi seperti rumus mencari , yaitu sebagi berikut:
Reaksi: LOH (aq) L+(aq) + (aq)
Rumus mencari nilai
Kb = [L+]. [OH-]
[LOH]
Menghitung pH larutan asam dapat dilakukan dengan menggunakan indikator asam basa atau pH meter. Namun ada beberapa cara lain dalam mengukur atau meramalkan pH larutan asam berdasarkan konsentrasi dan kekuatan asam yang bersangkutan, yaitu sebagai berikut:
Asam kuat mengion dengan sempurna, pH larutan dapat ditentukan jika konsentrasi asam diketahui, yaitu:
|
[H+] = M x Valensi asam |
Asam lemah tidak mengion sempurna, oleh karena itu ion H+ hanya dapat ditentukan jika derajat ionisasi (α) atau tetapan ionisasi asam juga diketahui,maka konsentrai ion [H+] dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut:
dengan, = tetapan ionisasi
M = konsentrasi asam
Namun jika derajat asam (α) yang diketahui, maka konsentrasi ion
[H+] dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:59
|
[H+] = M x α |
Seperti halnya asam kuat, pH larutan basa kuat dapat ditentukan hanya dengan mengetahui konsentrasi basa. Sedangkan untuk pH larutan basa lemah dapat ditentukan dengan sama halnya seperti pH asam lemah, yaitu jika konsentrasi dan derajat ionisasi atau tetapan ionisasi basa diketahui.
Indikator asam dan basa merupakan suatu senyawa organik yang dapat berubah warna berubahnya pH. Contohnya kertas lakmus. yang dapat berwarna merah pink dalam larutan yang bersifat asam dan berwarna biru dalam larutan yang bersifat basa. Indikator lakmus berwarna merah dalam larutan yang memiliki pH sampai dengan 5,5 dan berwarna biru dari pH = 8,0, sedangkan larutan yang pH-nya antara 5,5 - 8,0, warna lakmus adalah kombinasi darkedua warna tersebut, yaitu berubah dari merah menjadi ungu kemudian menjadi biru.
Batas-batas pH ketika indikator mengalami perubahan warna disebut trayek perubahan warna indikator itu.[i] Indikator dapat berubah warna apabila sistem kromofornya diubah oleh reaksi asam-basa. Setiap indikator memiliki trayek yang berbeda, maka pH larutan dapat ditentukan (diperkirakan) dengan kombinasi dari beberapa indikator.
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...